Pornografi Musuh dalam Selimut

MediaIndonesia – Ada majalah berbahasa Indonesia terbitan bulan lalu yang antara lain memuat artikel dan gambar-gambar yang ‘tidak biasa’. Di situ dipaparkan sejumlah teknik bersanggama yang mungkin menarik bagi mereka yang gemar belajar hubungan seks akrobatik. Tidak habis pikir bagaimana artikel dan gambar-gambar itu bisa lolos beredar. Pengaruhnya tidak baik bagi yang belum dewasa, yang kebetulan melihatnya. Kalau pun pembacanya orang-orang dewasa, pembelajaran semacam itu apakah patut secara terbuka disebarluaskan?

Kasus tersebut, selain beredarnya video porno Ariel dan kawan-kawan, menimbulkan pertanyaan: apakah UU Pornografi yang disahkan dua tahun lalu, 30 Oktober 2008, kurang memadai? Ataukah (aparat) negara tidak siap mengimplementasikan sanksi?

Topik ‘Bagaimana Seharusnya Peran Negara dalam Menanggulangi Pornografi dan Seks Bebas’ telah dipilih untuk bahan diskusi DPP Muslimah Hizbut Tahrir dalam pertemuan minggu lalu di Jakarta.

Kontroversi tidak kenal henti

Tidak ada masyarakat beradab yang setuju pornografi, kapan pun, di mana pun, apakah di Timur ataupun di Barat. Keresahan menghadapi pornografi ada di mana-mana. Namun, ketika RUU Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP) disosialisasikan pada Februari 2006, mengapa timbul kontroversi luar biasa? Maka ada komentar di pers, ‘Zaman sekarang masih ada yang menolak antipornografi?’

Komentar itu kedengaran naif, sebab bukan antipornografinya yang ditolak, melainkan rumusan yang ada di dalamnya. Rumusan itu tidak sesuai dengan spirit pluralisme maupun falsafah negara ini. Bangsa dan negara ini lahir atas dasar kemufakatan ratusan suku bangsa. Adat budayanya, termasuk rasa susila dan kepatutan berbusana, beraneka ragam. Ada sisi-sisi tradisi dan budaya yang diabaikan dalam rumusan RUU APP. Dia menjangkau ke mana-mana, tidak memfokus pada persoalan, yakni pornografi. Orang terburu-buru berkomentar tanpa mempelajari konsepnya. Pengaruhnya bisa buruk bagi persatuan nasional.

Seperti yang bisa diduga, RUU APP berjalan alot. Segera setelah disosialisasikan, demonstrasi marak di mana-mana. Antara lain yang ramai terjadi di Papua Barat, Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Jakarta menjadi ajang demo antara yang pro dan kontra, yang diikuti tokoh-tokoh terkemuka masing-masing. Yang pro-RUU APP umumnya terdiri dari para ulama. Yang anti kemudian mengadakan karnaval budaya Bhineka Tunggal Ika pada 22 April 2006, diikuti kalangan intelektual, rohaniawan, seniman, artis, masyarakat adat, dan aktivis perempuan. Mantan Ibu Negara Shinta Wahid dan GKR Hemas ikut dalam pawai itu.

Sejak reaksi pertama atas RUU APP yang heboh itu, DPR telah beberapa kali mengadakan perubahan. Menjelang pengesahannya, RUU APP dari yang semula memuat 11 bab dan 93 pasal, akhirnya memuat 8 bab dan 44 pasal. Namanya pun berganti menjadi RUU Pornografi, Sidang Paripurna DPR 30 Oktober 2008 mengesahkannya menjadi UU. Namun, kontroversi masih membayangi.

Negara telah menjalankan mekanisme menghadang pornografi. Undang-Undang Pornografi yang ada seharusnya mampu memagari tindak-tindak pidana pornografi yang ada sampai sekarang. Lacurnya, seperti yang terpapar di awal tulisan, pagar itu tampaknya roboh. Mungkin karena implementasi sanksinya tidak tegas. Selain itu, sekalipun mekanisme negara untuk menghadangnya terus dijalankan, dan kita tidak henti-hentinya berusaha membangun masyarakat beradab, ironisnya kemajuan peradaban juga membawa dampak negatif. Penemuan internet yang meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan pesat, sekaligus membawa serta kreasi-kreasi yang bersifat merusak, antara lain pornografi. Anak-anak remaja kita yang mendapat akses ke internet amat mungkin bisa mengakses situs pornografi. Sekitar 50% anak-anak menjadi korban tontonan VCD porno. Seks bebas di kalangan remaja marak antara lain sebagai akibatnya.

Penghadangan oleh segenap pihak

Dari diskusi minggu lalu, DPP Muslimah Hizbut Tahrir pada hakikatnya menginginkan masukan tentang peran negara untuk mengatasi pornografi. Sebagai respons, Masnah Sari SH dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, dengan rapi memaparkan langkah-langkah yang selama ini telah diambil pemerintah. Namun ia mengajui, masalah pornografi harus ditanggulangi bersama–oleh negara, lingkungan masyarakat, dan orang tua. Tanggung jawab terbesar ada di tangan orang tua karena merekalah yang mendidik dan membesarkan anak serta membimbing dan mengawasi kehidupan anak sehari-hari.

Sayangnya, 45% ibu-ibu berpendidikan rendah. Pikiran mereka tidak mampu menjangkau hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjamah kehidupan anak-anak mereka, termasuk yang membawa dampak merusak etika dan moral anak. Di sinilah dituntut peran serta masyarakat dan negara untuk segera mengambil langkah-langkah jangka pendek, menengah maupun panjang untuk mengatasi situasi yang sudah mencapai tingkat darurat ini. Untuk itulah perlu dilakukan gerakan oleh satuan-satuan kerja sejumlah kementerian, termasuk penertiban warnet porno dan pembersihan VCD porno dari pasar serta menghadang produk-produk media elektronik yang mengarah ke pornografi. Indonesia adalah pasar terbesar produk-produk porno setelah Rusia.

Saran lain: pengaturan anak berbasis keluarga. Perlu pembinaan yang disebut good parental skill, keterampilan mendidik yang baik oleh orang tua. Seberapa jauh idealisme semacam itu bisa diwujudkan, tergantung pada political will dan alokasi dana. Butuh sosialisasi. Anak-anak asuhan kita sekarang adalah pengelola masa depan bangsa ini. Kita tentu tidak rela melepas mereka tanpa pendidikan memadai.

2 responses to “Pornografi Musuh dalam Selimut

  1. A Rajab Leite Katze

    nice info gan😀

    • oia, blog saya yang sebelumnya (roeepiong.wordpress.com) di blok sama wordpress padahal perasaan saya tidak melakukan pelanggaran apa2. Semua postingan di sini sama dengan blog sebelumnya dan mudah2an tidak blok lagi.

      Kenapa ya bisa jadi kayak gitu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s